Subuh belum benar-benar lewat.
Aspal masih menyimpan panas kemarin.
Aku dorong gerobak,
roda kirinya seret,
tangan kanan menghitam kena gagang besi.
Di balik kaca mobilmu,
AC dingin, radio menyala.
Klakson dibunyikan pendek-pendek.
"Macet lagi," katamu.
Di tempatku berdiri,
yang ada cuma bau solar, debu,
dan asap yang menempel di tenggorokan.
Itu yang kuhirup sejak pagi.
Gerobak ini berat.
Bukan cuma karena isinya,
tapi karena jalan pulang
selalu terasa lebih jauh
daripada tenaga yang tersisa.
Kau bilang gajimu kecil.
Aku menghitung hari dari koin yang ada.
Kau punya slip dengan angka-angka.
Aku punya sisa belanja
untuk menentukan besok makan atau tidak.
Kau kesal karena makan siangmu telat.
"Mana makananku?"
Aku juga menunggu makanan.
Bedanya, aku tidak selalu tahu
apakah hari ini akan datang atau tidak.
Di perempatan, aku melihat banyak wajah.
Foto anak di dompet lusuh.
Seorang bocah mengangkat botol plastik.
Seorang ibu menawar cabai,
lalu tertawa kecil seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Di sini, senyum memang murah.
Tapi lapar tetap mahal.
Lihat tiang itu.
Kainnya bergerak pelan kena angin.
Kau menyebutnya bendera.
Aku melihatnya sebagai harapan
yang terus digantung,
tapi tak kunjung selesai dijemur.
Ada mata kecil yang menyipit kena matahari.
Ada punggung kecil membawa karung
yang terlalu besar untuk tubuhnya.
Langkah mereka cepat.
Nasibnya tidak.
Kau dan aku sama-sama mengeluh.
Kadang sama-sama tertawa juga.
Tapi keluhanmu pulang ke rumah,
ke meja makan,
ke lampu yang masih menyala.
Tawaku pulang ke malam
yang lebih sepi.
Tawa yang, kadang-kadang,
masih berutang pada lapar.