Kalau pendidikan itu mimpi, mungkin aku rela tidur lebih lama. Bukan untuk kabur, tapi supaya saat bangun, ada alasan baru bagi dunia ini untuk berubah.
Sering aku membayangkan hal-hal sederhana: masyarakat yang sehat, bukan cuma tubuhnya, tapi juga pikiran dan jiwanya. Hak yang tidak perlu dipinta, kewajiban yang dijalani tanpa menggerutu. Kedengarannya utopis, mungkin karena jarang kita melihatnya utuh. Tapi aku tetap menyimpannya di kepala, seperti menaruh gelas bening di ambang jendela: biar cahaya pagi bisa masuk dan menerobosinya.
Waktu kecil, aku kira tawa selalu berarti bahagia. Sampai satu episode di arc Wano mengajarkan hal sebaliknya: tawa bisa jadi topeng. Kadang bukan kabar gembira, melainkan cara paling rapi menyembunyikan luka. Sejak itu, aku belajar membaca ulang, mencari tanda lain selain senyum di bibir.
Suatu sore, aku berjalan menyusuri kota. Katanya untuk "mencari angin", padahal angin tidak pernah benar-benar hilang. Di lampu merah, kulihat anak-anak berseragam lusuh memungut botol plastik; seorang lagi bernyanyi pelan sambil menepuk kotak makan, seakan itu drum. Lencana sekolahnya pudar, kancing bajunya tidak seragam. Mereka belajar sambil bertahan hidup, dua hal yang mestinya tidak perlu berjalan bersama.
Di mana waktu bermain mereka? Waktu jatuh dan bangun tanpa takut, waktu menangis lalu dipeluk ibu? Siapa yang memotong jam-jam itu?
Hari itu aku hanya bisa diam. Tidak menunjuk, tidak menuding. Hanya menyimpan keluh.
Kalau boleh bermimpi: "Mulai hari ini, pendidikan dasar sampai menengah gratis. Tahun depan, perguruan tinggi negeri menyusul."
Kalimat itu hanya hidup di sini, di halaman ini. Besok pagi kota tetap sama. Ada rumah yang belum pernah disapa sekolah. Ada anak yang kalaupun sempat, belum sempat merasa duduk, sudah keburu pergi.
Aku masih percaya: pendidikan itu akar. Kalau akarnya sehat, batang tidak mudah patah. Banyak keresahanku, kurasa, lahir dari tanah yang sejak awal diabaikan. Tidak semua orang setuju, tidak apa-apa. Keyakinan ini sudah cukup untukku.
Aku menulis dari sebuah kabin kecil dengan meja kayu yang penuh bekas cincin gelas. Dari jendela, aroma pinus tipis masuk, dan bukit hijau menjulang di depan, seolah sedang mengawasi. Menulis di sini terasa seperti bercakap dengan diri sendiri, dengan alam jadi pendengar yang sabar.
Perjalanan ke sini empat jam, tidak jauh, tapi cukup memberi jeda. Di jalan kulihat pasar ramai tapi hemat, taman penuh tawa entah tawa lega atau sekadar pelarian. Ada yang pulang hanya dengan satu kantong belanja; uang sering tidak cukup, senyum selalu dipaksa cukup.
Negeri ini murah senyum. Itu anugerah, sekaligus jebakan. Senyum sering membuat statistik keliru membaca: seakan semuanya baik-baik saja, padahal tidak semua benar-benar baik.
Pagi ini aku ditemani secangkir kopi dan buku Di Bawah Tiga Bendera karya Benedict Anderson. Ia menulis: kemerdekaan lahir dari pikiran yang menolak tunduk. Imajinasi tentang keadilan bukan khayalan; itu cikal bakal keberanian. Dan keberanian, seringnya, tumbuh dari pendidikan.
Karena pendidikan bukan sekadar kelas dan nilai. Ia pintu menuju kesadaran, cara kita menamai yang salah, lalu mencari cara membenarkannya. Ia pasar besar yang mestinya terbuka untuk siapa saja, asal gerbangnya tidak dikunci. Dan kalau gerbang terlalu lama dikunci, yang tumbuh bukan hanya kekecewaan di luar, tapi juga putus asa di dalam.
Aku teringat lagi pada anak-anak di perempatan tadi. Mereka tidak sedang meminta belas kasihan; mereka sedang menukar waktu. Waktu yang seharusnya jadi milik masa kecil, diganti dengan ongkos hari ini. Kita sering menyebutnya "realita," seakan tidak ada ruang untuk mengubahnya.
Aku tidak menawarkan solusi singkat. Hanya mencoba menjaga mimpi itu tetap hangat, mimpi tentang hak belajar yang tidak tergantung nasib, tentang guru yang tidak kehabisan energi sebelum masuk kelas, tentang buku yang tidak berhenti di etalase karena harga.
Kalau mimpi itu terasa terlalu lembut untuk dunia yang keras, mungkin memang begitu caranya bekerja: masuk pelan-pelan. Lewat satu keputusan kecil di sekolah, satu beasiswa tambahan, satu perpustakaan keliling yang tidak lelah. Tidak spektakuler, tapi konsisten. Seperti akar yang bekerja dalam gelap tanah tanpa perlu dilihat.
Matahari bergeser. Bayangan puncak memanjang di kaca. Buku Anderson kututup, halamannya kutandai dengan tiket tol perjalanan tadi. Kopi tinggal separuh, uapnya makin jarang. Burung-burung melintas, menyilang udara jernih.
Kalau pendidikan masih harus kusebut mimpi, biarlah ia jadi mimpi yang tidak tergesa dibangunkan. Biar matang dulu, biar berakar dulu di kepala kita. Karena yang benar-benar mengubah keadaan bukan pidato besar di podium, melainkan pintu yang akhirnya benar-benar dibuka.
Sampai hari itu tiba, biarkan aku "terus tidur", menjaga mimpi ini tetap hangat, menutupinya dari dingin. Agar ketika ada yang mengetuk dan berkata, "Bangun, kelas dimulai," kita punya alasan nyata untuk berdiri.