Tiketnya datang lewat chat.
"Dapat."
Aku sempat menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya senyum sendiri. Indonesia lawan Bahrain, 25 Maret, jam 20.45. Untuk pertama kalinya aku bakal nonton Timnas langsung di stadion.
Sore itu aku pulang lebih cepat, salat, lalu ganti baju. Jersey merah versi suporter jadi pilihan paling tepat. Di jalan menuju Gelora Bung Karno, suasananya sudah terasa beda. Klakson bersahutan, pedagang bendera kecil ada di mana-mana, dan aroma jagung bakar serta sate bercampur di udara.
Orang-orang berjalan ke arah yang sama. Ada yang datang bareng teman, pasangan, keluarga, juga rombongan besar dengan jersey seragam. Tidak ada yang terlihat benar-benar terburu-buru, tapi semua jelas punya tujuan yang sama.
Di gerbang, antrean verifikasi cukup ramai. E-ticket dipindai, terdengar bunyi beep, lalu aku masuk ke area stadion. GBK tetap terasa besar, bahkan dari dekat. Betonnya memang terlihat tua, tapi justru itu yang membuatnya punya karakter. Rasanya seperti masuk ke tempat yang sudah menyimpan terlalu banyak cerita pertandingan.
Aku menunggu teman di bangku dekat pintu masuk. Sendirian, tapi tidak merasa sepi. Di sekelilingku ada ayah yang menggendong anaknya, pasangan muda, dan sekumpulan teman yang sibuk foto-foto. Beda orang, beda cerita, tapi malam itu semua datang dengan harapan yang sama: Indonesia menang.
Dua setengah jam sebelum pertandingan dimulai, tribun sudah mulai ramai. Drum dari arah utara berbunyi, lalu disambut teriakan dari sisi lain stadion. Suaranya datang bergelombang. Di situ aku teringat ayah, yang memang penggemar bola dari dulu dan pernah main di level semi-pro. Masa kecilku sendiri lebih banyak diisi pertandingan liga Eropa. Aku jatuh cinta pada Chelsea lebih dulu sebelum benar-benar mengikuti Timnas. Aneh, tapi memang begitu awalnya.
Lampu stadion mulai terang. Pemain masuk ke lapangan. Sorakannya bukan cuma keras, tapi terasa sampai ke dada.
Lalu Indonesia Raya dikumandangkan.
Aku sudah menyanyikannya berkali-kali sepanjang hidup, di sekolah, upacara, dan acara-acara resmi. Tapi malam itu rasanya beda. Semua berdiri. Ada yang menaruh tangan di dada, ada yang memejamkan mata, ada yang menyanyi sekuat tenaga meski nadanya tidak selalu tepat. Tidak rapi, tapi justru terasa tulus.
Pertandingan dimulai.
Bahrain terlihat cukup kesulitan di awal. Umpan mereka beberapa kali terputus, dan Indonesia mulai berani menekan. Setiap tekel yang berhasil selalu disambut tepuk tangan. Setiap pemain yang membawa bola ke depan diteriaki, "Maju!"
Teriakannya mungkin tidak serempak, tapi energinya terasa sama.
Aku sudah tidak terlalu ingat menit berapa gol itu terjadi. Yang kuingat cuma momen sebelum bola masuk: umpan dilepas, bola bergerak cepat, ada ruang kecil terbuka, lalu tendangan.
Jaring bergoyang.
Setelah itu semuanya seperti meledak.
Orang yang tadinya duduk langsung berdiri dan melompat. Anak kecil memeluk ayahnya. Ada botol minum yang terlempar ke atas. Aku ikut berteriak sampai tidak sadar suara sendiri hampir habis. Lantai tribun terasa bergetar, dan dadaku ikut berdebar lebih cepat dari biasanya.
Satu gol itu terasa panjang sampai akhir pertandingan. Sisa waktu kami lewati dengan tegang, dengan teriakan yang makin serak, dengan harapan agar peluit akhir segera berbunyi.
Lalu peluit panjang itu datang.
Indonesia menang.
Aku duduk sebentar, mencoba menenangkan diri. Setelah itu kami keluar stadion pelan-pelan di tengah gerimis. Jalanan licin, sepatu basah, suara sudah habis, tapi langkah terasa ringan.
Tidak banyak yang perlu dibicarakan. Semua orang tampaknya sama-sama paham apa yang baru saja terjadi.
Mungkin memang ini tentang sepak bola. Tapi rasanya juga lebih dari itu. Tentang berdiri bersama orang-orang yang tidak kita kenal, yang mungkin berbeda klub favorit, latar belakang, dan pandangan hidup, tapi malam itu menyanyikan lagu yang sama dan berharap untuk hal yang sama.
Kalau belum pernah, coba datang sekali ke GBK saat Timnas bermain. Bukan cuma untuk melihat sembilan puluh menit pertandingan, tapi untuk merasakan bagaimana, di satu malam tertentu, negeri ini bisa terasa sangat dekat.